Keseruan 250 Penjelajah Cilik di Pinang Barokah: Belajar Mandiri Lewat Petualangan dan Kebersamaan

METRO, LAMPUNG – Suara gelak tawa, riuh tepuk tangan, dan yel-yel penyemangat memecah kesunyian Bumi Perkemahan Pinang Barokah, Kota Metro, sepanjang akhir pekan kemarin, 13 hingga 14 Juni 2026. Kawasan hijau yang biasanya tenang itu mendadak berubah menjadi lautan energi positif seiring dengan kehadiran 250 anak-anak tingkat Sekolah Dasar (SD) kelas 4 sampai kelas 6. Mereka berkumpul bukan untuk berlibur biasa, melainkan untuk mengikuti petualangan edukatif dalam acara “Camping 29 Karakter” yang diinisiasi oleh DPD LDII Kota Metro.

Bagi sebagian besar peserta cilik ini, kemping kali ini merupakan pengalaman pertama mereka menginap di dalam tenda, jauh dari pelukan hangat orang tua, dan tanpa ditemani oleh gawai atau televisi kesayangan mereka. Namun, alih-alih diwarnai tangisan rindu rumah (homesick), suasana kegiatan justru berlangsung penuh dengan semangat membara, keceriaan yang tulus, dan rasa ingin tahu yang tinggi. Sejak langkah kaki pertama menapaki bumi perkemahan, para penjelajah cilik ini tampak sangat antusias mengikuti setiap jengkal rangkaian acara yang telah dirancang rapi oleh pihak panitia.

Dari Kemandirian Mengurus Tenda Hingga Outbound yang Menantang

Keseruan dan tantangan langsung dimulai sejak sesi awal perkemahan. Setelah acara pembukaan resmi dan penyampaian materi dasar mengenai pembinaan karakter luhur, anak-anak langsung dihadapkan pada ujian kemandirian pertama: menata isi tenda kelompok mereka masing-masing. Di bawah bimbingan para instruktur, jemari-jemari kecil yang biasanya memegang layar ponsel itu kini tampak sibuk bekerja sama menyusun matras, merapikan tas pakaian, dan memastikan area tempat tidur mereka bersih serta nyaman.

Memasuki sesi siang dan sore, keceriaan semakin memuncak saat panitia menggelar berbagai permainan edukatif berbasis kelompok (outbound). Lapangan perkemahan dipenuhi oleh pos-pos tantangan yang sengaja dirancang untuk melatih fisik, ketangkasan, sekaligus kerja sama tim. Ada kelompok yang harus berjuang melewati rintangan tali tanpa terjatuh, ada pula permainan yang menuntut konsentrasi penuh untuk mengalirkan air menggunakan pipa bocor. Dalam setiap permainan ini, nilai-nilai pembinaan karakter seperti rukun, kompak, dan kerja sama yang baik tidak lagi sekadar menjadi hafalan di buku, melainkan dipraktikkan langsung. Anak-anak belajar bahwa untuk mencapai garis akhir, mereka tidak bisa berjalan sendiri; mereka harus saling mendukung, menyemangati teman yang lelah, dan mendengarkan instruksi ketua kelompok.

Hangatnya Malam Keakraban di Bawah Langit Malam

Salah satu momen yang paling berkesan dan menguras emosi serta kedekatan emosional para peserta adalah saat diadakannya sesi Malam Keakraban. Di bawah naungan langit malam perkemahan dan dalam kehangatan kebersamaan, seluruh peserta, panitia, dan pembina berkumpul melingkar. Sesi ini diisi dengan berbagai penampilan kreativitas antar-kelompok, mulai dari pembacaan puisi, penampilan seni, hingga pesan-pesan moral yang disampaikan secara menyentuh. Atmosfer kebersamaan begitu kental terasa; sekat-sekat perbedaan asal daerah maupun sekolah seketika mencair, digantikan oleh rasa persaudaraan yang erat di antara sesama generasi penerus.

Melalui ragam aktivitas yang seru, menantang, namun tetap mengedepankan nilai-nilai religius dan kesopanan ini, Camping 29 Karakter berhasil memberikan pengalaman masa kecil yang tak terlupakan bagi 250 peserta tersebut. Mereka pulang ke rumah masing-masing tidak hanya membawa pakaian kotor khas petualang, tetapi membawa pulang pelajaran berharga tentang arti kedisiplinan, tanggung jawab menjaga lingkungan, indahnya berbagi, serta pentingnya memiliki akhlakul karimah. Pengalaman berharga selama dua hari di Bumi Perkemahan Pinang Barokah ini diharapkan akan terus membekas dalam ingatan mereka, menjadi modal penting dalam perjalanan mereka tumbuh dewasa menjadi pribadi yang mandiri, taat beragama, dan berguna bagi sesama. (LINES)